PROYEK “PERBUDAKAN” ALA PEMERINTAH


Pada hari ketiga, Rabu (15/12/2010), Presiden akan meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk para tenaga kerja Indonesia (TKI) di Gedung Grahadi, Surabaya. Program KUR TKI ini diperuntukkan bagi masyarakat yang ingin menjadi TKI. Melalui KUR, Pemerintah memberikan dana talangan biaya pengurusan menjadi TKI yang kemudian dicicil para TKI setelah bekerja di luar negeri.

“Selama ini, biaya pemberangkatan selalu dibebankan ke TKI. Karena itu, dengan program ini, Pemerintah menyokong terlebih dulu beban pembiayaan para TKI,” ujar Gunarto, Minggu (12/12/2010) di Surabaya.

Dikutip dari http://www.kompas.com/Minggu, 12 Desember 2010 | 21:19 WIB

Yang ada di benak saya ketika membaca kutipan berita di atas adalah : “NEGARA INI (MELALUI PEMERINTAH) AKAN BENAR-BENAR MENJUAL WARGANYA UNTUK MENJADI BUDAK NEGARA LAIN”. Kalau menurut anda?

MAS POETRA

BEASISWA KURSUS


Asyik… Beasiswa Kursus Inggris ke AS!

Jumat, 3 Desember 2010 | 18:17 WIB

KOMPAS.com – Indonesia English Language Study Program (IELSP) kembali menawarkan program beasiswa mengikuti kursus bahasa Inggris di universitas-universitas di Amerika Serikat selama 8 (delapan) minggu. Program IELSP Angkatan IX ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris peserta, khususnya dalam English for Academic Purposes.

Selain itu, peserta akan memiliki kesempatan mempelajari secara langsung kebudayaan dan masyarakat Amerika Serikat karena peserta akan mengikuti program immersion dalam kelas internasional. Di situ, peserta akan bergabung dengan peserta lain dari berbagai bangsa dan negara.

ELSP terbuka untuk mereka yang berumur 19-24 tahun dan masih aktif sebagai mahasiswa S-1, minimal tahun ketiga (semester 5 ke atas) di perguruan tinggi di Indonesia dan dari berbagai jurusan. Sebagai catatan, calon kandidat belum dinyatakan lulus atau menempuh sidang kelulusan.

Pendaftar juga harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik yang ditunjukkan dengan nilai TOEFL® baik International TOEFL® atau TOEFL® ITP minimal 450. Jika terpilih, peserta harus bersedia meninggalkan kuliah di tanah air selama 8 minggu karena akan mengikuti kursus intensif di AS selama waktu tersebut.

Bagi yang berminat, syarat dan formulir pendaftaran bisa diunduh di www.iief.or.id.

Sumber : Kompas.com

http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/03/18173364/Asyik….Beasiswa.Kursus.Inggris.ke.AS..

EKSPEDISI JEJAK PERADABAN NTT


Kubur Batu, Tempat Arwah di Alam Gaib

Sabtu, 11 Desember 2010 | 08:28 WIB

KOMPAS/JOHNNY TG

Oleh Johnny TG dan Atika Walujani Moedjiono

Mengunjungi kampung- kampung adat di Sumba serasa berada di tanah Galia, tempat tinggal Asterix dan Obelix, tokoh komik ciptaan R Goscinny dan A Uderzo. Ada pagar di sekeliling kampung yang melindungi rumah-rumah kayu beratap jalinan ilalang serta dipenuhi batu megalitik.

Bedanya, di kampung orang Galia, batu megalitik berbentuk menhir. Adapun di kampung adat Sumba berupa kubur batu besar.

Sebagaimana Prai (Kampung) Yawang di Kecamatan Rindi, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Kampung itu dibangun lebih tinggi dari jalan umum. Berbentuk segi empat dikelilingi pagar batu. Di kampung itu ada sekitar 10 rumah panggung, ada yang berdinding kayu, ada yang dari kulit kerbau. Ada rumah yang atapnya masih dari ilalang. Tapi, karena biaya atap ilalang mahal, bisa sampai Rp 15 juta, sebagian rumah atapnya sudah diganti seng. Sebagian rumah itu berusia lebih dari 100 tahun dan mengalami renovasi beberapa kali.

Ada tiga pintu untuk masuk ke kampung itu. Pintu depan tempat tamu masuk kampung jika ada perhelatan besar, seperti pernikahan atau penguburan. Jika hendak meninggalkan kampung, para tamu dipersilakan lewat pintu belakang. Selepas pintu belakang Prai Yawang ada tangga batu karena belakang kampung itu ngarai yang cukup curam. Selain itu, ada juga pintu samping tempat penghuni memasukkan barang dan hewan.

Rumah-rumah panggung di Prai Yawang mengelilingi kompleks kubur batu. Lebih dari tujuh kubur batu megalitik berdiri megah di tengah kampung. Kubur batu megalitik itu umumnya berukuran sekitar 4 x 2 meter, beratnya sampai puluhan ton, disangga empat tiang batu, menaungi jenazah yang dikubur di tanah dalam posisi duduk meringkuk dilapis puluhan kain adat dan ditutup semen. Di atas kubur batu dibuat penji (tugu batu) dengan ornamen binatang, seperti kerbau, buaya, kura-kura, atau harimau yang melambangkan raja, ayam atau babi yang menunjukkan kepemimpinan, dan udang yang melambangkan kehidupan hanya berganti bentuk dunia.

”Penji melambangkan kebesaran bangsawan dan hanya keturunan raja yang boleh membangun di atas batu kubur. Tapi, kini rakyat biasa juga meniru dan membuat penji di atas kubur,” kata Umbu Makabombu (50), bangsawan yang masih tinggal di kampung adat itu.

Di Sumba Timur, kubur batu megalitik bisa ditemui di sejumlah kampung, seperti Kampung Raja Prailiu, 3 km dari Waingapu, ibu kota Sumba Timur, yang populer sebagai tempat tujuan wisata, serta di Kampung Uma Bara, Desa Watu Hadangu, Kecamatan Umalulu, 67 km dari Waingapu. Di Sumba Barat dan Sumba Tengah lebih banyak lagi kubur batu megalitik.

Upacara penguburan sangat penting bagi orang Sumba yang menganut agama Marapu. Mereka menghormati arwah leluhur yang menjadi perantara dalam berhubungan dengan Sang Pencipta. Menurut budayawan Sumba, Frans Wora Hebi (65), masyarakat Sumba percaya, orang yang meninggal hanya pindah tempat. Karena itu, kekayaannya dibawakan ke liang kubur, seperti perhiasan emas dan manik-manik. Penguburan pun dilakukan secara besar-besaran, menyembelih puluhan kerbau dan kuda sebagai bekal di alam sana.

Batu megalitik dipercaya menjadi tempat tinggal di alam gaib. Semakin besar kubur batu, semakin menunjukkan kebesaran para bangsawan itu. Umbu Makabombu memberikan perkiraan biaya penguburan sekitar Rp 250 juta.

Umbu Makabombu menuturkan, pada zaman dulu, saat raja menetapkan waktu penguburan, rakyat segera berkumpul dan bekerja mengambil batu dari gunung dan menarik ke kampung. Hewan-hewan kurban segera disembelih. Sapi dan babi dipotong untuk menjamu tamu dan rakyat yang bekerja. Daging kerbau dan kuda dibagikan untuk dibawa pulang. Saat itu biaya tidak menjadi masalah. Namun, saat ini jenazah bisa disimpan beberapa tahun, hingga anak cucu dan kerabatnya mampu mengumpulkan biaya.

Ketika disinggung apakah tidak lebih baik biaya sebesar itu digunakan untuk memperbaiki rumah dan infrastruktur kampung, Makabombu mengakui, memang sebaiknya demikian. Namun, di sisi lain, adat tetap harus dilaksanakan.

”Mereka harus melaksanakan penguburan sesuai dengan kedudukan. Ini perintah adat, kalau tidak, posisi mereka akan hilang,” kata Makoto alias Umbu Haharu, antropolog Jepang yang menekuni budaya masyarakat Sumba dan pernah tinggal di Desa Kadahang, Kecamatan Haharu, Kabupaten Sumba Timur, untuk penelitian disertasinya pada Desember 1985-Juni 1988.

Dalam perbincangan dengan Tim Ekspedisi Jejak peradaban NTT Kompas, Bupati Sumba Timur Gidion Mbilijora menyatakan, pihaknya menyadari, ada sejumlah adat tradisi yang bisa menghambat kemajuan masyarakat. Termasuk, kecenderungan yang lebih mementingkan upacara penguburan yang biayanya Rp 250 juta sampai Rp 1 miliar.

Pihaknya berupaya untuk mengubah bentuk kebanggaan masyarakat Sumba, misalnya bangga jika anak sekolah tinggi dan hidup sejahtera. ”Setiap berkunjung ke desa-desa, saya selalu mendorong orang tua untuk menyekolahkan anak. Saya bilang kepada para bangsawan (maramba), kalau anak tidak sekolah, maka orang yang bukan maramba dan sekolah tinggi akan menjadi pejabat dan memerintah kalian,” kata Gidion.

Sumber : Kompas.com

http://oase.kompas.com/read/2010/12/11/08285336/Kubur.Batu..Tempat.Arwah.di.Alam.Gaib-5

EKSPEDISI JEJAK PERADABAN NTT


Marapu, Penjaga Tradisi Watu Pelitu

Sabtu, 11 Desember 2010 | 08:41 WIB

Pada zaman dulu saat masih terjadi perang suku, kampung-kampung di Sumba, Nusa Tenggara Timur, dibangun di atas bukit agar bisa memantau kondisi sekitarnya, misalnya saat kedatangan musuh.

Salah satu kampung adat yang masih tersisa adalah Kampung Uma Bara yang berada di Desa Watu Hadangu, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur. Luas wilayah Desa Watu Hadangu adalah 10,2 kilometer persegi, mencakup 13 kampung dan 2 dusun. Sebagian besar wilayah desa merupakan dataran rendah. Untuk mencapai desa yang berjarak hampir 67 kilometer dari Waingapu, ibu kota Sumba Timur, dapat menggunakan bus seukuran metromini dengan waktu tempuh 2-3 jam.

Pola perkampungan biasanya berbentuk empat persegi panjang dan dibangun di sepanjang aliran Sungai Melolo untuk mengatasi kesulitan air. Kebun warga berada di dalam kampung atau di tepi sungai. Adapun kuburan berlokasi di pinggir kampung. Rumah-rumah didirikan saling berhadapan. Di bagian tengah ada sebuah lapangan (talora).

Pemegang kekuasaan adat di wilayah itu adalah Umbu Nggikoe. Ia berasal dari marga Watu Pelitu, salah satu marga yang menjadi tuan tanah di daerah Umalulu dan masih mempertahankan kebudayaan megalitik (batu besar).

”Kami dulu tinggal di Paraingu,” ujar Umbu Nggikoe menunjuk ke bukit kecil di belakang kampung. ”Karena rumah-rumah di atas terbakar kena sambaran kilat, kami pindah ke bawah.”

Di kampung tersebut terdapat sejumlah kubur batu besar dengan beragam ukiran. Sebagian besar warga kampung memeluk agama Marapu, yaitu penghormatan kepada arwah nenek moyang yang membentuk marga sekaligus menjadi perantara dalam berhubungan dengan Sang Pencipta (Mawulu Tau Majii Tau).

Sebagai penghormatan kepada arwah leluhur, dibangun uma (rumah) lai kapangu, rumah adat tempat tinggal Marapu Umbu Lua Wuli-Londa Wudi, leluhur marga Watu Pelitu. Seperangkat gong bernama kapangu serta meriam penanda kebesaran marga diletakkan di rumah itu. Begitu sakralnya rumah itu sehingga tidak boleh ditempati manusia. Sumber penerangannya pun hanya diizinkan lampu minyak kelapa.

Selain itu, ada uma andungu yang merupakan rumah kebaktian saat berperang. Diberi nama andungu karena pada zaman dulu di depan rumah ini terdapat tugu perang (andungu). Beberapa altar batu (katoda) untuk sembahyang dan sepasang pohon beringin sebagai pintu masuk dan keluar kampung menjadi pembeda kampung Uma Bara dengan kampung lain.

Rumah adat dicirikan oleh bentuknya berupa rumah panggung dengan bagian tengah atap bermenara. Bagian dalam menara digunakan untuk menyimpan benda-benda suci dari Marapu yang disebut tanggu Marapu.

Sebagai seorang raja, Umbu Nggikoe memiliki kewajiban menjaga keberlangsungan adat. Hal itu dibuktikan dengan masih dijalankannya upacara Yila Watu (tarik batu) pada upacara penguburan ayahnya, Umbu Nggaba Haumara, tanggal 31 Oktober 1983. Sebenarnya Umbu Nggaba Haumara meninggal tahun 1961. Ia harus menunggu lama untuk dikuburkan karena penguburan memerlukan biaya besar.

Rangkaian upacara penguburan berlangsung selama 55 hari, termasuk 22 hari untuk menyiapkan batu kubur. Ratusan orang terlibat untuk menarik batu seberat 7 ton sejauh 3 kilometer. Ribuan orang hadir, baik dari marga yang memiliki hubungan kekerabatan maupun tamu undangan. Marga yang terlibat saling membantu dalam menyiapkan konsumsi selama kegiatan berlangsung. Semua ini tidak terlepas dari upaya melestarikan dan mengikuti apa yang dilakukan leluhur mereka.

Bagi penganut kepercayaan Marapu, batu merupakan tempat tinggal di alam gaib, alam para arwah (paraing marapu). Batu dianggap penjelmaan anak Ndewa Watu Parawihi. Dewa ini yang menurunkan kebiasaan menggunakan batu besar untuk penguburan.

Perlindungan leluhur

Keseharian orang Watu Pelitu berorientasi pada pertanian dan peternakan secara tradisional. Mereka percaya ada kekuatan supranatural yang menjaga lingkungannya. Meski pengolahan sawah mulai memakai traktor tangan, saat menanam padi harus meminta izin kepada dewa-dewi yang ada di katoda latangu (altar sembahyang di sawah) agar segala pekerjaan, mulai dari membersihkan sawah, membajak, menyebar bibit, sampai panen, berjalan lancar.

Katoda berbentuk tugu batu atau kayu setinggi 20 sentimeter dilengkapi lempengan batu sebagai altar untuk meletakkan persembahan. Untuk melindungi hewan yang dilepas di padang, seperti kerbau dan kuda, ritus dilaksanakan di katoda padangu (altar di padang).

Pemberi wanita

Dalam hubungan perkawinan dengan marga lain di sekitarnya, marga Watu Pelitu adalah pemberi wanita (yera) atas marga Laleba Karuku, Matolangu di Lewa, Sumba Barat, yang menjadi marga pengambil wanita (layia).

Pihak yera menjadi pihak yang dipertuan atas pihak layia, seperti diungkapkan pambotu la yera, yang artinya menghormati tempat mengambil wanita. Karena itu, dalam sistem perkawinan di kalangan bangsawan, pihak yera akan mendapat belis (mahar) berupa perhiasan emas berbentuk rahim wanita (mamuli), rantai emas (lakululungu rara), rantai perak (lakululungu bara), rantai tembaga (lulu amahu), beserta beberapa ekor kerbau dan kuda.

Adapun pihak layia akan menerima kain untuk pakaian pria (hinggi), sarung untuk pakaian perempuan (lau), manik-manik (hada), gading (nggedingu), dan selendang yang jumlahnya tergantung dari kesanggupan kedua belah pihak.

Budayawan Sumba, Frans Wora Hebi, yang juga guru SMA, menyatakan, agama Marapu masih dominan di masyarakat Sumba. ”Sering orang bilang itu kafir. Namun, saat mengajar di kelas, saya katakan itu bukan kafir. Mereka juga punya aturan-aturan seperti agama yang lain, bahkan lebih keras. Jika melanggar, selain berarti dosa, juga harus ditebus dengan memotong hewan,” katanya.

Di tengah derasnya arus perubahan yang menerpa, agama Marapu memberi sisi positif pada penghormatan leluhur dan keharmonisan hubungan manusia dengan lingkungannya. Sebuah tradisi yang perlu dimaknai dari perilaku para penganutnya. (Johnny TG)

sumber: Kompas.com

http://oase.kompas.com/read/2010/12/11/08413445/Marapu..Penjaga.Tradisi.Watu.Pelitu-5

PUNYA pROPOSAL ? tERSEDIA 62 jUTA…


HIBAH SENI KELOLA
KOMPAS.com – Hibah Seni 2011 telah dibuka. Program dari Yayasan Kelola ini merupakan bentuk dukungan bagi seniman maupun pendidik seni agar terus menghasilkan karya dengan kualitas yang semakin baik.
Bagi yang berminat bisa mengirimkan proposal pertunjukan dengan batas waktu penyerahan hingga 15 Januari 2011. Hibah Seni 2011 dari Yayasan Kelola ini akan memberikan dukungan untuk produksi Karya Inovatif, maksimal Rp 22 juta dan Pentas Keliling, maksimal Rp 40 juta.
Formulir pendaftaran atau informasi detail mengenai hibah seni ini bisa diunduh di http://www.kelola.or.id atau ke alamat hibahseni@kelola.or.id atau . Kami juga dapat dihubungi di telepon (021) 739 9311. Pengumuman peraih Hibah Seni 2011 ini akan dipublikasikan pada 5 April 2011 di situs Kelola.
Sumber: Kompas.com

http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/06/12224296/Punya.Proposal.Tersedia.Rp.62.Juta….

Langkanya Peneliti di Negeri Ini


JAKARTA, KOMPAS.com – Dari sekitar 150.000 dosen di berbagai perguruan tinggi serta 10.000 peneliti di berbagai lembaga penelitian, kontribusi mereka dalam melakukan penelitian belum optimal. Dalam acara malam Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (AKIL) 2010, akhir pekan lalu, terungkap hanya sekitar 176 usulan penelitian yang masuk.

Dari 25 anugerah yang disediakan dengan penghargaan untuk setiap peneliti Rp 250 juta, dewan juri hanya memutuskan 15 peneliti yang layak mendapatkan anugerah kekayaan intelektual luar biasa.

Pada penghargaan AKIL pertama tahun lalu, sebenarnya pemerintah menyediakan anugerah untuk 50 peneliti. Namun, penghargaan itu hanya terserap sekitar 50 persen sehingga jumlah penghargaan tahun ini dikurangi menjadi 25 anugerah.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional sekaligus Penasihat AKIL 2010 Djoko Santoso mengatakan, jumlah pelamar yang masuk terlalu kecil dibandingkan potensi peneliti Indonesia.

”Ke depan perlu perbaikan dari sosialisasi dan cara seleksi. Tetapi yang utama bagaimana potensi peneliti Indonesia itu berkembang dan menghasilkan karya penelitian yang luar biasa bagi bangsa ini,” kata Djoko.

Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal menambahkan, pemberian anugerah ini untuk menumbuhkan karya kreatif dan inovatif di kalangan peneliti. Penghargaan AKIL yang memasuki tahun kedua itu merupakan kerja sama Kemendiknas; Kementerian Hukum dan HAM; Kementerian Pertanian; Kementerian Riset dan Teknologi; serta Kementerian Perdagangan.

Sejumlah peneliti yang menerima AKIL 2010 ternyata juga memiliki reputasi sebagai peneliti internasional. Bahkan, ada karya intelektual peneliti Indonesia yang sudah dipatenkan di luar negeri. (ELN)

Sumber: kompas.com

http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/08/09191977/150.000.Dosen.Belum.Optimal.Meneliti

Masa Depan Para Perokok


Perokok Lebih Tahan terhadap Parkinson Ketimbang Bukan Perokok

Jum’at, 12 Maret 2010 | 15:23 WIB

TEMPO Interaktif, California –  Para peneliti memiliki wawasan baru tentang hubungan antara penyakit Parkinson dan merokok. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko yang lebih rendah terkena penyakit Parkinson. Sebuah studi baru yang diterbitkan Neurology edisi daring (online) 10 Maret 2010, menunjukkan bahwa merokok selama beberapa tahun dapat mengurangi risiko penyakit Parkinson. Tapi, menghabiskan banyak batang rokok per hari mungkin tidak mengurangi risiko ini.

“Hasil penelitian ini dapat memandu pengembangan studi mengenai berbagai komponen tembakau dengan model binatang untuk membantu memahami hubungan antara merokok dan penyakit Parkinson,” kata penulis studi ini, Honglei Chen, dari National Institute of Environmental Health Sciences, California, Amerika Serikat. “Namun, mengingat merokok lebih banyak merugikan, tak seorang pun akan menyarankan merokok dalam rangka mencegah penyakit Parkinson.”

Penelitian ini melibatkan 305.468 responden berusia 50 hingga 71 tahun yang menyelesaikan survei pada saat itu dan kembali disurvei 10 tahun kemudian. Selama sama tersebut, 1.662 orang terkena penyakit Parkinson.

Perokok 44 persen lebih kecil kemungkinannya terkena penyakit Parkinson dibandingkan dengan orang yang tidak pernah merokok. Orang yang pernah merokok pada masa lalu dan kemudian berhenti, 22 persen lebih kecil kemungkinannya terkena Parkinson ketimbang mereka yang tidak pernah merokok.

Orang yang merokok selama 40 tahun atau lebih, 46 persen lebih kecil kemungkinannya terjangkit Parkinson dibandingkan dengan orang yang tidak pernah merokok. Mereka yang merokok selama 30 sampai 39 tahun, 35 persen lebih cenderung memiliki penyakit Parkinson daripada yang bukan perokok. Sebaliknya, mereka yang merokok selama satu sampai sembilan tahun, hanya delapan persen lebih kecil kemungkinannya menderita penyakit Parkinson.

Risiko terjangkitnya penyakit Parkinson tidak berubah berdasarkan berapa banyak seseorang mengisap rokok per hari.

ScienceDaily/Ngarto Februana

Sumber : Tempo Interaktif

http://www.tempointeraktif.com/hg/kesehatan/2010/03/12/brk,20100312-232151,id.html

No Post


Beasiswa Luar Negeri


Masih Dibuka, “Short Course” ke Belanda!

Sabtu, 6 November 2010 | 11:31 WIB

KOMPAS.com – Netherlands Fellowship Programme (NFP) masih memberikan kesempatan untuk meraih beasiswa short course di universitas-universitas di Belanda. Program ini menyediakan pelatihan profesional lanjutan untuk tingkat pasca sarjana (post-secondary) pada beberapa bidang studi.

Peserta program short courses ini akan memperoleh sertifikat atau diploma. Lamanya program ini berkisar antara dua minggu hingga 12 bulan. Adapun skema beasiswa NFP yang dihibahkan mencakup biaya studi, biaya perjalanan internasional, biaya hidup, tunjangan buku dan asuransi kesehatan.

Bagi para peminat, permohonan beasiswa ini harus dikirimkan melalui Nuffic Neso. Untuk itu, kandidat diminta berkonsultasi lebih lanjut dengan Nuffic Neso (Nuffic Neso Indonesia).

Daftar short courses yang tersedia melalui program NFP ini dapat dilihat di situs http://www.nuffic.nl/. Batas aplikasi terakhir 1 Desember 2010.

Sumber: Kompas.com

http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/06/11315543/Masih.Dibuka…quot.Short.Course.quot..ke.Belanda.

Beasiswa Luar Negeri


BEASISWA BIDANG HAM DAN DEMOKRASI

KOMPAS.com – University of Sydney bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM) dan tiga universitas lain di Sri Lanka, Thailand dan Nepal memberikan beasiswa full scholarship untuk program Asia-Pacific Master of Human Rights and Democratisation.

Meski pendaftaran beasiswa S-2 ini akan ditutup dua hari lagi atau 10 Desember 2010, peminatnya dari Indonesia masih sedikit. Adapun universitas dari Nepal dalam kerja sama ini adalah Kathmandu School of Law (Nepal), dari Thailand adalah Mahidol University, serta University of Colombo dari Sri Lanka.

Uniknya, penawaran ini memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menempuh studinya di dua perguruan tinggi, yaitu University of Sydney dan satu dari empat perguruan tinggi di Asia Pacific tersebut, yang tentunya terkait bidang demokrasi dan hak azasi manusia.

Informasi selengkapnya bisa disimak di http://sydney.edu.au.

Sumber: Kompas.com

http://edukasi.kompas.com/read/2010/12/08/12374687/Mau..Beasiswa.Bidang.HAM.dan.Demokrasi-5

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: